For Fun: Anak Pulau (Sayangnya) Kelahiran Kota

April 23, 2020

Aku memanggil diriku perempuan pulau kelahiran kota. Dengan Langkawi sebagai cinta pertamaku, yang airnya saja tidak jernih tapi bebas pajak, nama itu memang sah. Namun, aku dipaksa untuk memeriksa ulang semuanya saat aku menginjak Perhentian Kecil. Pulau kecil terpencil di pantai timur Terengganu ini memenuhi semua syarat; matahari yang panas tapi ramah, pasir hangat, pantai yang damai dan transparan, dan kehidupan laut yang cantik. Langsung, kebebasan bea tidak lagi penting.

Setelah berjam-jam di jalan, aku dan sahabatku sadar kita telah tiba saat sinyal kita berkurang jadi 3G, satu bar. Liburan ini akan tentram, kami pikir, bagus! Hari pertama kami habiskan di Pantai Pasir Panjang, membahas mantan-mantan kami dan mencoba untuk mengurangi sakitnya dengan minuman. Bersyukur atas liburan ini, jari kakiku menembus butiran pasir yang hangat, dan meringkuk dengan nyaman. Lalu, dengan matahari berubah terik tapi ramah, kami pindahkan obrolan kami ke tengah-tengah air yang bersih dan menyegarkan. Kami duduk di bibir pantai, di tengah air tenang tanpa ombak, dan aku bisa teguhkan kami lebih berisik dari suara air itu sendiri. Sewaktu kami snorkel di hari esoknya, kami disambut oleh terumbu karang yang menawan. Kedamaian meresap ke sel kulitku, tapi tak lama. Jantungku lompat ketika ada banyak hiu berenang di bawahku - yang sejujurnya, merupakan pengalaman yang mengubah hidupku. Maksudnya, aku digigit ikan kecil warna hitam, dan hiu-hiu tersebut cuek saja dengan kehadiranku. Namun, itu tetap berkat untukku. Lalu, semuanya jauh membaik; Aku menyaksikan kura-kura yang berenang ke permukaan, berbalut kilauan sinar matahari!

Perhentian Kecil mengubahku jadi perempuan pulau, yang berani untuk lompat ke laut lepas langsung, tapi masih butuh rompi pelampung oranye norak itu, dan nampaknya, kursus berenang agar tidak terus menelan air laut super asin yang selalu masuk ke pipa pernapasanku.

Aku memang benar-benar perempuan pulau kelahiran kota.